Feed on
Posts
comments

Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) merupakan sebuah perguruan seni beladiri yang menjadikan filosofi Aikido sebagai bagian terpenting dalam penempaan mental?pikiran (mind) dan sikap/tubuh (body) para angggotanya dalam upaya untuk mencapai karakter dan keribadian (soul) seorang “Budoka” (warrior)

Pendirian organisasi ini pada awalnya dirintis oleh beberapa orang yang tengah mendalami seni beladiri Aikido. Diantara mereka terdapat orang-orang yang pernah bahkan masih aktif mendalami seni beladiri lainnya, sehingga kemudian dari mereka tercetus sebuah ide untuk membentuk suatu wadah latihan yang terorganisir. Untuk itu, pada tanggal 22 Agustus 2003 wadah itu terwujud dengan nama Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri Aikido “Bandung Aiki Jutsu” yag kemudian lebih dikenal dengan nama AIKIDO BAJ.

Dari waktu ke waktu anggota dan peminat Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri Aikido “Bandung Aiki Jutsu” kian lama kian bertambah, maka muncul beberapa pemikiran tentang perlunya suatu wadah dalam bentuk organisasi yang lebih profesional untuk menampung aspirasi anggotanya. Atas dasar ini, maka pada tanggal 11 Januari 2004 diadakan Musyawarah Nasional yang pertama yang menghasilkan beberapa keputusan penting; yakni tersusunnya perubahan nama dari Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri Aikido “Bandung Aiki Jutsu” menjadi Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu”. Tersusun pula AD/ART serta menetapkan Kushadiyanto S.Psi sebagai Pelatih Utama, kemudian pada posisi Dewan Pelatih adalah Ganjar Subekti, Pepen Junaedi, Bambang Yudha P.K, da Hendri Sugiharto. Terpilih pula beberapa nama untuk menduduki jabatan-jabatan dalam kepengurusan organisasi.

Langkah berikutnya dari Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” adalah mencatatkan diri ke Notaris untuk aspek legal dan kekuata hukum sebagai salah satu perguruan seni beladiri yang berada di Indonesia.

Pada dasarnya Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” merupakan sebuah organisasi mandiri/independen; tidak terikat dengan organisasi lain manapun baik secara teknik maupun keorganisasian, sehingga dengan materi yang beragam dan kontinuitas latihan yang baik, para anggota Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lain pada umumnya sesuai dengan kebutuhan yang harmonis serta berkarya secara kreatif dan inovatif.

Kurikulum di AIKIDO BAJ sendiri merupakan perpaduan dan kombinasi seni beladiri Aikido dengna berbagai unsur dari seni beladiri lain. hal ini merupakan komitmen para pendiri organisasi sejak awal pendirian AIKIDO BAJ; untuk menjadikan wadah ini sebagai sarana untuk berlatih seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lainnya secara umum, sehingga dapat dikatakan bila materi pembelajaran yang ada adalah 80% Aikido dan 20% pengayaan (enrichment). Semua materi itu diramu dan digubah sedemikian rupa dalam konsep beladiri yang efektif dan efisien serta tetap berpijak pada prinsip dasar dan filosofi Aikido. Landasan filosofi inilah yang menjadikan kata “AIKIDO” tertera secara resmi pada nama organisasi.

Perjalanan organisasi yang terus bergulir merupakan langkah-langkah kecil yang sedang dan harus ditempuh menuju perjalanan panjang untuk menjadikan Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu”mampu eksis di tengah-tengah masyarakat untuk mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lain pada umumnya. Pengembangan wadah ini dilandasi oleh salah satu pemikiran Aikido sendiri yaitu harmonisasi antara alam semesta dan manusia. Alam merupakan sumber kehidupan sementara manusia adalah mahluk hidup yang mempunyai ilmu pengetahuan sehingga mampu berkarya dengan kreatifitas yang hampir tanpa batas, sehingga dalam kegiatannya di Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) menjadi sebuah wadah bagi para anggotanya untuk berlatih dan mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lainnya secara umum.

Mengapa Harus Ukemi

Setiap orang yang berlatih aikido tentu sangat akrab dengan istilah ukemi. Lebih dari separuh waktu latihan kita habiskan untuk melakukan ukemi. Apa sebenarnya manfaat ukemi?

Kebanyakan dari kita pada saat menjadi uke dan melakukan ukemi, masih berpikir ukemi hanya sekedar cara menyelamatkan diri, atau cara menghindar dari cidera serius dalam latihan dan tidak lebih dari itu. Tidak sedikit juga yang termotivasi belajar berbagai bentuk ukemi yang “spektakuler” agar teknik yang dilakukan dapat terlihat lebih “dahsyat”. Apakah ini makna dari berlatih ukemi? Jika memang ukemi hanya berfungsi agar teknik aikido terlihat “heboh” seperti di film-film, bukankah sebenarnya kita hanya berlatih sebuah sandiwara bertemakan beladiri?

Namun jika kita dengarkan nasihat orang-orang yang telah lama berlatih aikido bahkan banyak shihan, menekankan pada pentingnya untuk melatih hal yang satu ini. Ada shihan yang mengatakan bahwa berlatih ukemi sama pentingnya dengan berlatih teknik, ada juga yang mengatakan dari ukemi lah kita mengerti cara melakukan teknik yang benar, bahkan ada shihan yang pada saat ditanya bagaimana cara berlatih aikido hingga mencapai level beliau, shihan tersebut menjawab dengan sangat singkat “perbanyak ukemi”. Dari nasihat-nasihat ini kita dapat berasumsi bahwa tentunya makna ukemi lebih dalam dari sekedar cara menyelamatkan diri dengan berguling kedepan atau kebelakang, dan bagi komunitas aiki kenkyukai yang senantiasa ingin menggali lebih dalam tentang esensi berlatih aikido, wajar jika kita tergerak hatinya untuk mencari tahu tentang makna di balik kegiatan yang paling sering kita lakukan ini.

Sebagai awal, kita kaji ukemi dari segi makna bahasa. Uke berarti menerima (to receive) sedangkan mi berarti tubuh (body). Ukemi dapat diartikan secara sederhana “menerima dengan tubuh” atau “tubuh yang mampu menerima”. Dari arti bahasa diatas, makna ukemi sendiri tidak ada hubungannya dengan kata jatuh, atau menyelamatkan diri dari jatuh, atau semacamnya. Jadi jangan sampai kita terjebak pada pemahaman bahwa belajar ukemi berarti belajar cara jatuh yang benar pada saat kita terlempar agar kita tidak cidera, karena ukemi sendiri sebenarnya merupakan proses yang terjadi sejak sebelum kita terlempar yaitu sejak kita mengadakan kontak dan terjadi keterikatan dengan nage baik secara fisik maupun secara KI, ukemi adalah proses bagaimana kita menerima teknik yang diberikan oleh nage, menerima dan berapdatasi dengan baik terhadap teknik dan KI yang diberikan, sehingga hasilnya kita selamat.

Ada ujaran, “Ukemi is not learning how to fall but learning how to feel”. Ujaran tentang ukemi ini sederhana namun cukup mewakili makna ukemi yang tepat karena pada intinya pada saat kita melakukan ukemi, yang seharusnya ada di benak kita bukanlah bagaimana cara menjatuhkan diri yang aman melainkan secara tulus menerima rasa yang diberikan nage dari awal hingga akhir dan beradaptasi dengan cara yang terbaik.

Setelah kita mendapatkan pemahaman tentang ukemi bahwa ukemi adalah proses menerima apa yang diberikan oleh nage, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana cara melatih ukemi dengan benar?. Memang tidak ada yang dapat menggantikan jam latihan dalam hal mencapai pemahaman tentang apa yang benar dan apa yang salah, semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk mengasah ukemi kita maka semakin pahamlah kita bagaimana mempraktekkan ukemi yang benar.

Namun ada beberapa poin penting yang harus dipahami dan diingat setiap kali berlatih ukemi. Pertama, didalam aikido segala sesuatunya harus didasari oleh prinsip satu kesatuan antara pikiran, hati dan tubuh. Begitu juga dengan ukemi, hampir mustahil melakukan proses ukemi yang benar jika kita hanya berharap tubuh kita melakukan hal tersebut tanpa pikiran dan hati yang juga tulus disiapkan untuk menerima teknik dari nage.

Contoh sederhana, jika pada saat kita berpasangan dan menjadi uke ada perasaan takut jatuh, atau takut nage akan menyakiti diri kita, atau ketidak yakinan pada kemampuan kita, yang membuat hati kita menjadi tidak tenang maka kemungkinan besar ukemi yang kita lakukan pun akan berantakan.

Contoh lain, pada saat kita menjadi uke, niat atau fokus pikiran kita tidak terpusat pada nage dan apa yang akan kita lakukan, maka kemungkinan besar juga reaksi yang kita rasakan juga tidak maksimal dan pada akhirnya baik nage maupun uke tidak mendapatkan manfaat latihan yang penuh.

(taken from:http://www.aiki-kenkyukai.com/2007/03/03/ukemi)

Makna di Balik Hakama

Hakama adalah pakaian tradisional Jepang yang biasa digunakan dalam seni beladiri seperti Aikido, Kendo, Jujutsu, dan Kyudo. Hakama dianggap sebagai suatu hal yang menarik bagi praktisi beladiri yang memakainya. Tidak sedikit dari praktisi beladiri tersebut yang berlatih hanya karena berambisi untuk dapat mengenakan hakama tanpa memahami maknanya. Bahkan beberapa diantaranya hanya ingin terlihat gagah atau anggun dengan hakama. Tentu saja hal ini sangatlah disayangkan.

Hal yang kita perlu renungi bersama adalah, “Apakah kita sudah benar-benar memahami makna dari sebuah hakama?”. Karena pemahaman terhadap jiwa (spirit) dari hakama akan membantu kita dalam berlatih Aikido seperti yang diajarkan oleh O’ Sensei.

Dalam Aikido, hakama biasanya dikenakan oleh praktisi yang telah mencapai tingkat yudansha (shodan ke atas), kecuali bagi praktisi wanita. Mereka diperbolehkan mengenakan hakama pada tingkat kyu tertentu. Tradisi ini tanpa disadari menjadi sebuah persepsi yang salah bagi para praktisi Aikido dalam menilai makna dari sebuah hakama pada latihan mereka. Pendapat yang berkembang umumnya menganggap bahwa hakama mewakili tingkatan seseorang, sehingga ia dapat disebut sebagai “Sensei”. Bahkan hakama dinilai sebagai simbol superioritas mereka dalam teknik. Hal yang lebih menyedihkan, apabila seorang Aikidoka terburu-buru mengikuti ujian kenaikan tingkat hanya karena ingin cepat mengenakan hakama. Setelah ia mendapat apa yang dinginkannya, kemana Aikido akan dibawa dengan pemahaman seperti itu? Hal ini harus menjadi perhatian bagi kita yang ingin berlatih Aikido dengan benar agar tidak berjalan di atas rel yang salah. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami dan merenungi makna dari hakama yang kita kenakan dalam latihan.
Hakama merupakan simbol dari spirit Budo dalam Aikido. Di dalamnya terdapat falsafah dan prinsip hidup seorang Budoka (ksatria). Maka untuk menjalankan falsafah hidup seorang kstaria menjadi tanggung jawab moral bagi siapa saja yang mengenakan hakama. Pada hakama terdapat 7 ruas (garis) yang terbujur secara vertikal, dengan posisi 5 garis di bagian depan dan 2 garis lain di bagian belakang. Setiap garis tersebut memiliki makna yang mendalam sebagai simbol dari karakteristik ajaran Budo. 7 ajaran Budo ini dikenal sebagai 7 Pilar Budo.

Ketujuh pilar tersebut adalah:

1. Gi/The Truth: Kebenaran

Kebenaran adalah titik kulminasi pencarian manusia yang tertinggi dalam hidupnya. Karena nilai kebenaran yang tertinggi hanya ada satu dan satu-satunya, yaitu Tuhan. Manusia dalam perjalanan hidupnya akan hampa dan tidak berarti apapun jika ia tidak menyadari bahwa ia merupakan bagian yang sangat kecil dari sekian banyak ciptaan Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya. Manusia dengan egonya terkadang menjadikan dirinya seakan-akan poros dunia dan alam semesta. Pada kenyataannya, manusia layaknya sebutir debu ditengah padang pasir. Datang dan perginya tidak berarti apa-apa, kecuali mereka menemukan makna sejati dari kehidupannya di dunia.

Dalam Budo, nilai-nilai spiritual merupakan esensi ajaran serta tujuan akhir dari perjalanan hidup seorang Budoka. Sehingga orang-orang yang mempelajari Budo (seni bela diri) , namun ia berpaling dari agama maka pada dasarnya ia tidak mengerti akan apa yang ia pelajari. Hal ini ditegaskan O’Sensei “Tidak ada di dunia ini yang tidak dapat mengajari kita. Untuk sebagian orang, contohnya, akan menjauhi atau tidak mau mengerti dari ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa mereka tidak dapat mengerti arti mendalam dari pengajaran ini. Ajaran agama berisi tentang sesuatu yang mendalam dan kebijaksanaan. Anda harus mengerti tentang hal ini dan menerapkan pengertian anda melalui Budo.”. Maka pahamilah Budo sebagi sebagai salah satu jalam untuk menerapkan ajaran spiritual dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Meiyo/Respect & Honor : Menghormati dan Kehormatan

Sikap menghormati merupakan sifat yang sangat lekat dengan karakter budaya masyarakat Jepang. Hal ini dapat kita lihat dari budaya “REI”, yaitu membungkukkan badan sebagai tanda menghormati seseorang. Dalam Budo sikap menghormati seperti ini merupakan gambaran nilai kehormatan bagi seorang samurai, dengan kata lain seorang samurai hanya dapat dikatakan memiliki sebuah kehormatan dalam dirinya, bila ia tahu bagaimana cara menghormati orang lain.

Dalam falsafah moral ini sangat penting untuk mempraktekkan cara bersikap dengan benar dan baik khususnya terhadap orang-orang yang statusnya berada diatas kita, seperti kepada orang tua kita, guru dan atasan atau tuan pada masa dahulu. Dalam buku “Bushido Shosinshu” yang ditulis oleh Taira Shigesuke (1639-1730), dikatakan bahwa “bagi para ksatria (Budoka), merawat dengan baik orang tua adalah suatu hal yang mendasar”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kedua orang tua merupakan asal muasal eksistensi kita dimuka bumi, darah daging yang kita miliki adalah darah daging mereka. Mereka akan melakukan apapun yang terbaik untuk kehidupan anaknya. Maka sudah menjadi tugas dan kewajiban setiap orang, apalagi bagi mereka yang menempuh jalan ksatria (Budoka), untuk berbakti dan memuliakan kedua orang tua seumur hidupnya.

Terhadap guru, kita juga harus menghormati mereka. Guru dalam bahasa Jepang disebut “Sensei”. Artinya orang yang terlahir lebih dahulu, dan lebih lanjut memiliki pemahaman sebagai orang yang memiliki pengetahuan & kebijaksanaan tentang kehidupan lebih mendalam dari yang kita miliki atau orang yang kita jadikan tempat belajar atau bertanya, sekalipun usianya mungkin lebih muda dari kita.

Dalam Budo, guru diibaratkan sebagai orang tua kedua setelah kedua orang tua kita. Hal ini disebabkan karena mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan setelah orang tua kita. Mereka turut mendidik dan membantu murid agar dapat menjalani kehidupan dengan baik.
Seorang Sensei dalam Budo merupakan jabatan spiritual, dimana pertanggungjawaban moral saja tidaklah cukup. Seorang Sensei harus bertanggung jawab untuk mendidik murid-muridnya agar menjadi manusia yang lebih baik secara fisik, mental, moral dan akhirnya spiritual. Hal ini tidak kita temukan pada pendidikan modern dimana guru hanya merupakan jabatan fungsional dalam suatu sistem pendidikan.

Seseorang yang mempelajari beladiri sebagai Budo harus memahami hal ini, sehingga tak seorang pun dari Budoka yang dapat mengatakan kepada orang lain “ Dia itu bekas guru saya” sebagaimana ia tidak dapat mengatakan “itu bekas orang tua saya” sekalipun ia sendiri telah menjadi orang tua. Orang tua akan tetap jadi orang tua kita karena kasih sayang mereka akan kita bawa hingga akhir hayat. Seperti juga guru, mereka tetap menjadi guru kita karena ilmu yang diberikan oleh guru akan kita bawa sampai akhir hayat.

3. Makoto/Honesty & Sincerity: Kejujuran dan Ketulusan

Kejujuran dalam tutur kata dan Ketulusan dalam perbuatan adalah hal yang esensial dalam Budo. Bila kita menghormati seseorang, maka kita lakukan dengan sepenuh hati dan jiwa, bukan tampilan fisik semata. Apabila kita bertutur kata, maka katakanlah yang sebenarnya, yang ada dalam hati dan pikiran kita dengan cara yang baik dan terhormat. Kejujuran merupakan hal yang sulit dilakukan kecuali bagi mereka yang memiliki keberanian dalam jiwa mereka. Menjaga kepercayaan dari orang lain (amanah), juga merupakan salah satu bentuk kejujuran dan ketulusan. Apabila anda dititipkan sebongkah emas ditangan anda dari seorang teman yang akan melakukan perjalanan jauh, maka anda harus memastikan bahwa emas itu aman ditangan anda sampai teman anda kembali. Andai kata teman anda meninggal dalam perjalanan, maka anda harus tetap dapat memastikan bahwa emas tersebut jatuh ke tangan keluarga yag berhak mewarisinya, tanpa mengambil atau berharap keuntungan sedikitpun dari situasi ini. Orang yang dapat melakukan hal seperti ini adalah seorang ksatria sejati.

4. Chugi/Loyalty: Kesetiaan

Kesetiaan adalah suatu sikap yang terhormat, sedangkan pengkhianatan adalah sikap yang rendah dan hina. Seorang ksatria akan menjaga kesetiaannya bahkan apabila harus mengorbankan nyawa sekalipun. Samurai-samurai pada jaman dahulu (sebelum restorasi Meiji) rela mengorbankan nyawa mereka untuk membela tuannya atau perguruannya. Pada saat sekarang ini kesetiaan tetap merupakan sebuah sikap yang sangat mulia dan sangat langka. Hanya orang-orang yang memiliki keberanian saja yang memiliki sikap seperti itu. Yang justru banyak terjadi di masa sekarang ini adalah seseorang sangat mudah melakukan pengkhianatan bila ia menemukan sesuatu yang dirasa dapat merugikan dirinya atau disisi lain untuk mendapatkan keuntungan lebih. Sikap seperti ini tidak ada tempat didalam Budo (jalan ksatria). Kesetiaan pada perguruan merupakan yang relevan hingga masa sekarang, namun bukan dalam arti larangan mempelajari bentuk beladiri lain. Melainkan untuk tetap menjaga nama baik dojo atau perguruan tempat dimana ia berlatih dan mengamalkan ilmunya dengan cara yang baik serta menjaga silsilah (mata rantai) dari ilmu yang telah ia pelajari.

5. Rei/Courtesy: Sopan Santun

Tata tertib dan sikap sopan santun adalah bagian yang integral dalam Budo. Tanpa sikap dan tata kesopanan yang baik dan benar, maka seseorang tidak dapat dikatakan sebagai ksatria sekalipun ia sangat mahir dalam bertempur. Sikap “Rei” adalah sebuah contoh yang mudah kita pahami. Rei pada saat memasuki dojo, memulai latihan, menutup latihan hingga kita keluar dojo, merupakan hal yang harus dilakukan dengan pemahaman yang mendalam. Sering kali hal seperti ini dianggap remeh karena tidak memahami semangat (spirit) dari latihan. Perlu diingat bahwa kita berlatih bukan sebatas untuk olah raga atau sekedar berlatih untuk bertarung namun diharapkan latihan aikido dapat membentuk mental, moral dan spiritual seorang aikidoka yang mampu beradaptasi pada kondisi seburuk apapun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini sikap dan sopan santun sangatlah diperlukan sebagai sebuah disiplin dalam sebuah seni beladiri agar terbentuk sebuah keberanian yang diikuti sifat kerendahan hati para praktisinya.

6. Jin/Knowledge and Wisdom: Pengetahuan dan Kebijaksanaan

Budo merupakan suatu bentuk pengetahuan yang menghasilkan kebijaksanaan. Setiap pengetahuan haruslah menghasilkan sebuah nilai kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan pengetahuan hanya akan menghasilkan bencana. Berabad-abad manusia hidup menghasilkan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Salah satunya adalah teknologi persenjataan. Dengan teknologi persenjataan pada masa kini, semakin banyak orang tidak berdosa menjadi korban peperangan yang didasari oleh keserakahan.

Demikianlah contoh sebuah pengetahuan yang dicapai tanpa menghasilkan kebijaksanaan. Dalam Budo anda mempelajari tentang nilai hidup dan mati. Anda melatih kemampuan hati, pikiran dan tubuh untuk menerima kematian atau mengakibatkan terjadinya hal tersebut. Oleh karenanya, pengetahuan Budo tanpa kebijaksanaan adalah sebuah malapetaka kemanusiaan.

Kebijaksanaan tertinggi dalam Budo adalah mengalahkan diri sendiri dan menempa hati, pikiran dan tubuh untuk bersungguh-sungguh mencari nilai kebenaran tertinggi.

7. Yuki/Courage: Keberanian

Keberanian diletakkan pada urutan terakhir dari ke 7 pilar Budo, karena keberanian hanya dapat diperoleh setelah seseorang mampu memahami dan menjalani ke 6 pilar sebelumnya. Keberanian dalam diri seorang ksatria merupakan pancaran dan sifat-sifat serta akhlak yang mulia. Keberanian yang dilandasi pemahaman terhadap nilai-nilai kebenaran sejati dan kehormatan diri bukan keberanian yang didasari pada kemarahan dan keinginannya untuk mengalahkan orang lain.

Mengingat kematian juga merupakan hal yang sangat esensial untuk membentuk sifat-sifat Budo karena seseorang yang senantiasa mengingat kematian akan selalu menjaga perbuatan dan sikapnya agar tetap berada dalam koridor kebenaran. Seorang samurai harus selalu mengingat kematian setiap saat, baik pada saat pertempuran yang dapat mengakibatkan kematian bagi dirinya maupun lawannya, atau dalam menjalani hidup sehari-hari. Keberanian menghadapi maut merupakan hal yang mutlak harus dimiliki seorang Budoka dalam menghadapi situasi perkelahian yang sebenarnya karena dalam pertarungan sesungguhnya tidak ada menang kalah melainkan hidup atau mati. Oleh sebab itu seorang Budoka harus memastikan dirinya selalu berpegang teguh pada nilai kebenaran, karena pertempuran yang pertama dapat menjadi pertempuran terakhir baginya. Sekali ia mengambil keputusan untuk bertempur maka ia tidak akan mundur atau lari. Dia juga tidak akan pernah menyesal dengan keputusan yang diambil, sekalipun ia harus kehilangan nyawa. Karena ia tahu bahwa ia berada dalam kebenaran.

Miyamoto Musashi menjelaskan dalam buku “Go Rin No Sho” ( the book of five rings) bahwa apabila seorang samurai telah mencabut pedang dan berkata “saya akan bertahan hidup disini!” maka orang itu akan mati lebih cepat dari yang dia kira. Dan jika seorang samurai mencabut pedangnya dan berkata “ saya akan mati disini, saya akan mati dengan kehormatan” maka orang seperti ini akan hidup lebih lama dari yang dia harapkan.

Sekali lagi dalam Budo, nilai keberanian adalah hasil pemahaman atas nilai-nilai kebenaran dan kemuliaan akhlak, sehingga dalam pertempuran yang sebenarnya tidak ada nilai menang atau kalah tetapi nilai benar dan salah dalam berpijak dan bersikap terhadap kehidupan yang kita jalani.

Penutup

Dibeberapa literatur, dijelaskan tentang nilai-nilai Budo dengan urutan atau kandungan yang agak berbeda, tetapi tetap memiliki esensi yang sama, yaitu mengenai ajaran moral, mental dan spiritual yang harus dimiliki seorang Budoka. Berdasarkan nilai-nilai yang telah dijelaskan diatas, maka diharapkan para aikidoka, khususnya para yudansha dapat mengerti atau memahami secara mendalam dan mengamalkannya dalam kehidupan serta mengajarkan kepada generasi berikutnya terutama murid-muridnya, sebagai sebuah tanggung jawab dari apa yang ia pahami dan pelajari dari arti sebuah hakama yang telah ia kenakan.

(sumber : http://www.aiki-kenkyukai.com/2007/03/03/memahami-makna-hakama-dalam-latihan-kita)

Makna di Balik Rei

Rei merupakan hal yang sangat mendasar dan selalu dilakukan oleh seorang Aikidoka.

Ketika akan memasuki dojo [ruangan berlatih] biasanya dia dalam posisi berdiri akan melakukan rei [memberikan hormat dengan cara membungkuk]. Juga ketika akan masuk ke matras [tatami]; ketika akan memulai berpasangan untuk berlatihan; juga ketika setelah selesai berpasangan, mereka akan melakukan rei dalam posisi seiza [duduk bersimpuh ala Jepang]. Demikian pula ketika seorang instruktur yang memanggil muridnya untuk maju ke depan, ketika akan memberikan contoh teknik, si-instruktur [guru] akan memulai terlebih dahulu dengan rei dalam posisi seiza, dan setelah si-instruktur selesai memberikan contoh, dia akan menutup dengan rei dalam posisi seiza kembali. Sadar atau tidak sadar, sesungguhnya gerakan terbanyak ketika kita latihan didojo adalah gerakan REI yaitu gerakan memberikan penghormatan dengan membungkuk baik dalam posisi seiza [zarei] ataupun berdiri [ritsurei]. Silahkan anda hitung berapa kali anda melakukan rei dibanding melakukan teknik.

Mari kita renungkan apa makna rei menurut pemahaman sehari-hari ketika berlatih Aikido?

Rei adalah suatu bentuk penghormatan, permohonan, permintaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dari hati yang tulus dan penuh komitment dari si-pelaku REI kepada orang lain [teman pasangan berlatih, baik junior, senior, maupun kepada instruktur].

Sikap Rei dapat diimplementasikan dalam pemberian sikap hormat kepada dojo tempat berlatih. Pengertian ini bukan dalam makna religius yaitu untuk mendewakan atau menganggap tempat sakral atau kudus. Disini logika yang digunakan adalah apabila kita menghormati suatu tempat, misalkan dojo, ruang kerja, kamar mandi, tempat tidur, maka jika kita hormati dan memperlakukan / merawat dengan cara yang baik, maka “tempat” itu akan memberikan hawa positif pula kepada kita yang menggunakannya.

Di Aikido itu sendiri makna Rei menuntut kepada pelakunya untuk memberikan penghormatan kepada Alam Semesta [Universe] dan sesama manusia, namun untuk lebih membumi kita batasi di sini makna rei kepada sesama manusia.

Dalam praktek sekarang, makna rei sudah mengalami kemunduran, yaitu terlihat dari adanya rei yang dilakukan asal-asalan atau setengah hati, seperti rei yang dilakukan sekedarnya saja yaitu kedua orang yang berpasangan dilakukan dalam posisi berdiri, lalu membungkukkan badan dengan asal menunduk & memberi hormat sambil mengucap onengashimasu asal-asalan. Atau ekstrimnya salah satu melakukan rei dalam posisi seiza dan pasangan lain memberikan rei [hormat] dalam posisi berdiri. Di sini terlihat seperti seseorang yang menyembah kepada orang lain. Posisi rei seperti ini adalah salah, karena sebaiknya rei dilakukan oleh dua orang dalam keadaan sama baik posisi seiza [zarei] ataukah berdiri [ritsurei]

Fungsi kita berdisiplin melakukan sikap rei, diharapkan akan menciptakan karakter manusia yang senantiasa dan selalu berkenan memberikan hormat yang mendalam kepada orang lain, dengan penuh ketulusan hati dan penuh komitment. Baik terhadap sesama aikidoka ataupun dalam kehidupan interaksi sosial sehari-hari. Di tambah dengan ucapan Onegaisimasu (mohon petunjuk) dan Arigato gozaimashita (terima kasih) yang harus diucapkan secara sungguh-sungguh dari lubuk hati, akan mencerminkan sikap seseorang yang dengan kerelaan dan keikhlasan untuk berlatih dan menerima segala macam kritik dan koreksi dari instruktur maupun rekan.

Rei tetap harus diberikan kepada setiap orang dalam berpasangan [interaksi] walaupun kita tidak menyukai pasangan berlatih. Dampak positifnya hal ini akan menciptakan aikidoka yang rendah hati walau dia telah mencapai tingkat yang tinggi sekalipun, karena penghormatan dengan cara rei harus tetap diberikan kepada junior ataupun anggota baru sekalipun apalagi terhadap senior.

Dengan memupuk kedisiplinan rei sejak dini, maka pemberian rasa hormat akan tidak “menjadi-mahal atau bukan barang import” dan keharmonisan akan sangat mudah tercipta.

Sebaliknya, ketika penghormatan melalui sikap rei ini sudah sering diabaikan, sesungguhnya sikap ini akan “mencoreng” kehormatan pribadi dari orang yang mengabaikan rei itu sendiri. Selain itu si-pelaku akan pula meremehkan teknik atau gerak yang dilakukannya sendiri [sehingga teknik yang dilakukan tidak berkualitas / berbobot], dengan demikian akan muncul sikap ketiadaan penghormatan terhadap pasangan berlatih [seperti mengunci sekenanya saja, membanting se-enaknya saja tanpa memikirkan kehati-hatian dan keselamatan si-uke]. Dampak ekstrim dari ketiadaan rei, maka orang ini sangat mudah menghina atau menyalahkan teknik sesama aikido-ka baik kepada junior maupun kepada senior serta cepat tersinggung apabila mendapat koreksi ketika berlatih.

Mengabaikan rei dalam kehidupan sehari-hari juga akan memunculkan kegemaran “menggosip, mencemooh, menghakimi” seseorang telah berperilaku salah sesuai takaran pemikirannya sendiri.

Sikap/perilaku seorang aikidoka yang baik bukan diukur dari adanya kemampuan teknik yang baik, punya banyak murid yang banyak, bisa berceloteh sana-sini mengenai aikido. Seorang Aikidoka yang baik terukur dari sikap rasa saling menghormati terhadap sesama manusia, dan rasa menghormati terhadap teknik Aikido itu sendiri.

Bila rei ini benar-benar kita lakukan, niscaya “kesejukan” berpasangan akan dirasakan oleh pasangan berlatih kita ketika kita melakukan teknik sekeras atau secepat apapun, karena suatu teknik yang diawali dengan sikap rei yang benar, biasanya tidak akan menciptakan cidera atau timbulnya rasa sakit yang tidak perlu bagi rekan/teman berlatih.

(sumber: http://www.blogger.com/feeds/8506257301609003161/posts/default)

KAMAE, “Kuda-kuda”

Dalam hal apapun, bentuk sikap menunjukkan kondisi mental seseorang. Maka dalam Aikido, diperlukan sebuah sikap (kuda-kuda) yang dilakukan sedemikian rupa sehingga memunculkan kondisi mental yang siaga namun tidak tegang.
Kuda-kuda dalam Aikido tidak dilakukan dengan kaku–yang hanya akan membuat setiap gerakan tegang dan tidak mengalir. Kuda-kuda harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan menunjang setiap gerakan dalam Aikido. Walau demikian, sikap (kuda-kuda) harus tetap dalam keadaan dimana titik keseimbangan tubuh dalam posisi yang stabil sehingga tidak mudah digoyahkan. Sikap ini adalah ketika kita mampu menempatkan berat badan pada posisi terendah dan berkonsentrasi pada satu titik (hara: dua inci di bawah pusar).

MA AI, “Jarak yang sesuai”

Sebuah pertarungan, secara alamiah akan memerlukan suatu jarak yang sesuai, dimana si penyerang dapat melancarkan serangan dengan efektif, ataupun si pembela diri dapat melakukan pertahanan dengan tepat.
Dengan memahami konsep ruang gerak/pertarungan yang ada di sekelilingnya (depan, samping, belakang) secara baik, seorang Aikidoka harus mampu mengukur jarak yang tepat bagi dirinya dengan lawan dalam mengaplikasikan setiap waza atau menetralisir setiap serangan yang mungkin ada.

KUZUSHI, “Menggoyahkan keseimbangan lawan”

Suatu serangan tentu akan baik bila si penyerang mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik pula. Sehingga bila posisi tubuh lawan stabil, maka tentunya teknik Aikido apapun sangat sulit untuk dapat diterapkan. Hal ini mengingat bahwa lawan tidak akan mungkin “memberikan” dirinya begitu saja untuk dijatuhkan dan dia akan mencari cara untuk “melepaskan diri” dari teknik apapun apabila ia memang masih mampu untuk melakukan itu. Taknik Aikido hanya akan berhasil diaplikasikan ketika kondisi lawan tidak bisa menghindar lagi, dengan kata lain ia sudah “tidak punya pilihan lain” selain menerima teknik yang diterapkan padanya. Situasi seperti ini hanya akan terjadi ketika lawan sudah tidak memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri. Untuk itulah pentingnya menghilangkan keseimbangannya terlebih dahulu.

ATEMI, “Menghilangkan konsentrasi lawan”

Secara harfiah, atemi berarti teknik pukulan/serangan. Dalam Aikido, atemi punya peranan yang penting sebagai penghilang konsentrasi lawan. Aikido tidak menggunakan atemi sebagai alat untuk menghancurkan lawan, karena teknik Aikido tidak diutamakan untuk merusak melainkan hanya sekedar melumpuhkan lawan.
Seperti halnya keseimbangan, seorang lawan akan sulit dilumpuhkan saat ia memiliki konsentrasi serangan yang sempurnna. Maka dengan atemi, seorang pembeladiri akan mencuri kesempatan dibalik kelengahan si penyerang yang mungkin hanya sepersekian detik namun sudah cukup memberinya waktu untuk mengaplikasikan waza Aikido.
Atemi tidak mutlak harus berbentuk serangan dimana sesuai dengan maksud dan tujuannya dalam Aikido, maka Atemi dapat berupa teknik apapun yang mampu menggoyahkan kemampuan fisik dan mental lawan.

SHIKAKU, “Sudut Mati”

Gelombang serangan yang datang bertubi-tubi tentunya akan sangat sulit untuk diantisipasi bila hanya terfokus pada serangan tersebut. Dengan memasuki ‘sudut mati’ (blind spot) lawan, maka serangan apapun akan terhenti karena sesaat kita seperti “hilang” dari jangkauan lawan.
Dalam prinsip ini, seorang Aikidoka harus mampu menempatkan posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia berada dalam posisi yang mampu menjangkau lawan, sebaliknya lawan tidak mampu menjangkaunya. Dengan kata lain, “dekat bagi kita namun jauh bagi lawan”.

SUKI, “Celah kelemahan lawan”

Suki disini mencakup semua hal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kelemahan lawan bisa muncul kapan dan dimana saja, tergantung kejelian si pembela diri untuk menemukan untuk kemudian memanfaatkannya dengan baik.
Suki dapat berupa bagian tubuh lawan yang terbuka tanpa perlindungan; dapat juga kesempatan yang muncul ketika lawan goyah keseimbangannya atau hilang konsentrasinya. Bila mampu memanfaatkan suki dengan baik, maka waza Aikido akan mampu diterapkan tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.

RIAI, “Berkarakter pedang”

Harus dipahami bahwa semua serangan yang datang itu laksana pedang; jangan membloknya. Justru seorang pembela diri harus keluar dari garis serang dan mengalirkan serangan yang datang, sehingga ia tidak akan mengalami benturan dengan lawan.
Dan harus disadari pula bahwa teknik Aikido dikembangkan dari teknik pedang sehingga dalam mengaplikasikan setiap teknik harus selalu menyadari bahwa kita sedang “memainkan pedang” yang direpresentasikan dalam setiap teknik Aikido.

CHUSIN, “Garis tengah/Center Line”

Segala sesuatu selalu memiliki garis tengah / garis pusat sebagai titik pusat tumpuan atau poros keseimbangan. Pada tubuh manusia garis pusat keseimbangan dimulai dari titik seika tanden yang berada kira-kira 3 jari dibawah pusar. Kemudian ditarik garis lurus keatas melalui bagian tengah tubuh hingga berakhir pada ubun-ubun kepala dan dari tanden ditarik garis lurus kearah bawah, sehingga jatuh tepat diantara dua kaki pada posisi Shizen Tai. Pada saat anda berkonsentrasi di garis tengah tersebut, anda akan merasa lebih seimbang, stabil dan terfokus. Posisi selanjutnya untuk melatih Chusin adalah pada posisi Kamae. Pada posisi ini anda dapat melihat dan merasakan keberadaan Chusin sebagai garis imajiner dalam latihan. Bagi para pemula, wajib untuk mengkonsentrasikan setiap gerakan dan tehnik yang mereka lakukan pada Chusin. Fokuskan tubuh, tangan, pinggang dan kaki dalam satu garis lurus. Bergeraklah secara simultan.

Chusin juga berfungsi sebagai garis penghubung antara anda dan lawan, bagaikan jembatan yang menghubungkan 2 daratan yang terpisah. Chusin dapat menghubungkan “KI” anda dan “KI” lawan anda dalam sebuah garis lurus. Apabila Ki anda telah menjadi sebuah garis lurus dengan lawan anda, maka secara otomatis lawan akan kehilangan garis keseimbangannya dan akan terikat dengan garis keseimbangan anda. Maka dengan demikian, anda dapat mengendalikan lawan anda dengan ringan dan mudah, tanpa mengalami konflik.

Bersamaan dengan lamanya waktu anda berlatih, maka Chusin akan bertransformasi menjadi sebuah garis energi yang lambat laun akan melebur dengan gerakan anda secara alami/natural. Pada saat itu, kemanapun anda mengarahkan pikiran anda dan kemanapun tubuh anda bergerak, maka disanalah Chusin berada. Anda tidak lagi bergerak mengikuti garis tengah, tetapi garis tengahlah yang mengikuti gerakan anda. Setelah anda mencapai level ini, maka anda tidak lagi terikat dengan gerakan baku. Bergeraklah secara bebas dan natural, karena lawan telah menjadi satu bagian dengan anda.

ENSHIN, “Poros Lingkaran”

Hakikat dari tehnik-tehnik Aiki adalah sebuah lingkaran yang sempurna, tidak terputus ataupun terpatahkan. Bagaikan air yang mengalir tanpa gangguan atau seperti ritme nafas kehidupan yang terus berhembus hingga akhir waktu.

Gambaran esensi tehnik Aiki adalah seperti sebuah pusaran yang berbentuk spiral, dimulai dari sebuah lingkaran yang sangat besar dan kemudian mengecil, mengecil, mengecil, sehingga menjadi sebuah titik. Pusaran tersebut tidak berhenti sampai disitu saja, melainkan terus berputar sehingga titik tersebut lenyap dan tidak terlihat oleh mata. Sebagian orang akan menyangka dengan hilangnya titik tersebut, maka hilanglah pula pusaran tersebut. Tetapi pada hakikatnya pusaran itu terus berputar, walaupun mata kita tidak mampu lagi melihatnya.

Demikianlah tehnik-tehnik Aiki bekerja. Pada level awal, selalu diawali dengan lingkaran-lingkaran yang besar sehingga dengan kasat mata orang dapat melihat dan mengikutinya dengan jelas dengan demikian seseorang dapat mempelajari bentuk-bentuk teknik dengan mudah. Sejalan dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman anda dalam memahami kebijaksanaan Aiki, maka secara alamiah lingkaran-lingkaran tersebut akan mengecil dan terus mengecil sehingga tidak dapat tertangkap oleh mata orang yang tidak terlatih. Pada tingkatan tersebut, tehnik akan sulit sekali dipahami bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang Aiki. Maka pada tingkatan ini seseorang praktisi akan lebih memfokuskan latihannya dalam bentuk pengalaman tubuh secara langsung dengan merasakan keadaan yang disebut dengan “kondisi aiki”. Latihan seperti ini disebut “taitoku” (learn through experience). Akhirnya pada tingkatan yang lebih lanjut, seseorang dapat saja tidak lagi perlu melakukan kontak secara fisik dengan lawannya untuk melakukan sebuah teknik. Hal ini disebabkan karena energi gerak fisikal yang bersandar pada sifat kedirian seseorang telah berubah menjadi energi universal yang menyatu secara keseluruhan dengan apapun yang ada disekelilingnya dan mengikatnya sejak awal. Nilai yang disebut lingkaran kecil tanpa garis dalam dan lingkaran besar tanpa garis luar.

Dalam sebuah hukum tentang Aiki, dijelaskan pula bahwa pada saat pusaran energi materiil membesar, maka besaran energi imateriil akan mengecil. Begitupun sebaliknya, jika energi imateriil membesar, maka energi materiil mengecil. Bila mana anda telah memahami ini, maka anda telah memahami prinsip Enshin dalam Aiki.

SU CHU, “Fokus pikiran”

Setiap melakukan teknik apapun, fokus pikiran sangatlah penting. Dalam penerapan teknik, fokuskan terlebih dahulu pikiran anda. Berpikirlah lurus sebelum melakukan gerakan lurus. Berpikirlah tentang putaran sebelum bergerak memutar. Jadikan pikiran sebagai pemimpin dan penyatu kekuatan kita, untuk mengkoordinasikan tubuh dan pikiran hingga sampai pada apa yang disebut, ‘Ken Zen Ichi Nio’* atau Moving Zen.

KOKYU, “Kekuatan Napas”

Menggunakan Kokyu (pernapasan) sangatlah penting untuk menentukan momentum yang tepat untuk mengaplikasikan teknik. Dalam Aikido, Kokyu dihubungkan dengan In-Yo (Yin-Yang, Cina). Didasari oleh dua macam kontraksi pernapasan, yaitu menghirup (inhale) disimbolkan dengan In (Yin) dan menghembuskan (exhale) Yo (Yang). Ketika seseorang bersiap melakukan suatu gerakan, biasanya ia akan mengawalinya dengan menarik napas (In) untuk mengumpulkan tenaga dan bila melakukan diiringi dengan hembusan napas (Yo). Berdasarkan prinsip ini, momentum terbaik untuk mengaplikasikan teknik adalah ketika lawan masih dalam posisi In. Bila diterapkan teknik pada keadaan ini, maka napas lawan akan tersentak balik dan napasnya terpotong. Dalam situasi ini teknik akan mudah diaplikasikan pada lawan.

AWASE, “Mengalir” dan MUSUBI, ”Berpadu”

Awase dan Musubi merujuk pada sebuah hal yang sama, yakni upaya untuk melakukan harmonisasi/penyelarasan.
Setiap teknik harus dilakukan secara mengalir dan rileks. Penerapan secara terpatah-patah akan memunculkan banyak kesempatan untuk meloloskan diri dari setiap teknik dan menjadikan teknik tidak akan efektif karena aliran tenaga yang terhambat. Bila teknik dilakukan secara mengalir, akan mampu membuat lawan “tersedot” ke dalam “pusaran” yang dibuat oleh si pembela diri, bagaikan sebuah angin tornado yang mampu melarutkan dan menyatukan benda apapun (berpadu) yang ada didalamnya.
Dalam Aikido, kemampuan si pembela diri untuk berpadu dengan lawan dikarenakan kemampuannya untuk merasakan kondisi lawan; energi, emosi, keinginan dsb. Bagaikan dua utas tali yang disatukan (Musubi: simpul tali), maka ketika ujung satu ditarik maka ujung lain akan mengikuti. Demikian pula pada setiap penerapan waza Aikido, saat lawan ingin bergerak ke suatu arah, maka si pembela diri akan menyesuaikan dengan situasi itu. Saat si penyerang ingin melakukan suatu gerakan, kembali si pembela diri mengadaptasikan diri dengan respon/teknik yang sesuai. Dalam hal ini, si pembela diri tidak boleh menentang “arus” yang dibuat oleh si penyerang, karena itu akan menguras tenaga lebih banyak tenaga.

ZANSHIN, “Follow Through/Kewaspadaan”

Satu hal yang tampak sepele namun sering terlupakan adalah kewaspadaan yang harus dilakukan setiap saat, baik saat menghadapi serangan lawan ataupun ketika serangan itu sudah dapat dilumpuhkan. Yang sangat harus diperhatikan, bahwa ketika serangan lawan berhasil dilumpuhkan, bukan berarti bahaya sudah lewat. Justru kewaspadaan harus lebih ditingkatkan, karena kelengahan dapat menyebabkan lawan yang tampaknya sudah tidak berdaya memiliki kesempatan kedua untuk menyerang kembali.
Dalam keadaan dimana terjadi penyerangan dilakukan lebih dari seorang, Zanshin dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada penyerang laionnya khususnya yang berada di area yang tak terlihat mata dengan tidak mengurangi fokus pada lawan yang telah dijatuhkan/dikuasai.

Tata tertib adalah aturan main yang pasti ada dalam setiap aspek kehidupan manusia, apalagi ketika para manusia berkumpul untuk melaksanakan suatu kegiatan bersama-sama. Aturan main dibuat secara logis agar kegiatan berjalan dengan lancar dan terkendali. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang sering terdengar di dunia seni beladiri, “Seni Beladiri diawali dan diakhiri dengan sopan santun.”

TATA TERTIB DI DOJO

Dilarang memakai sepatu atau alas kaki lainnya di atas matras. Simpan sepatu atau alas kaki lainnya di tempat yang telah disediakan begitu anda memasuki dojo.

Jagalah kebersihan dan kerapihan ruangan sekitar dojo.

TATA TERTIB SEBELUM LATIHAN

Keluar dan masuk dojo untuk pertama dan terakhir kali, lakukan Rei ke kamiza (mimbar kehormatan) sambil mengatakan “Osu”.

Diharapkan anda sudah siap di sekeliling matras minimum lima menit sebelum latihan dimulai dan berbaris dengan rapih dalam posisi Seiza. Anda harus memastikan bahwa teman di sebelah kanan anda adalah sejajar atau rankingnya lebih tinggi. Gunakan waktu ini untuk menghapus masalah-masalah atau stress dari pikiran kita dan menyiapkan diri dan mental kita untuk berlatih.

Jika anda tiba pada waktu kelas telah mulai (misalnya sedang berbaris, sedang siap membungkuk) anda harus menunggu sampai pemberian hormat itu sampai selesai dan kemudian anda dapat masuk ikut latihan.

Mereka yang datang terlambat harus segera berganti pakaian seragam. Pada waktu ada di matras langsung menuju ke instruktur untuki meminta ijin mengikuti latihan dan melakukan Rei sembari mengatakan “Osu”.

Tata-Tertib Sewaktu Berlatih

Ketika semuanya sudah duduk berjejer, instruktur akan masuk ke matras dan mengambil posisi Seiza menghadap mimbar kehormatan (Kamiza). Dimulai dengan aba-aba “Mokuso”, instruktur memimpin doa dan meditasi sebelum latihan dimulai. Setelah aba-aba “Yamaete”, doa dan meditasi selesai. Instruktur kemudian memberi aba-aba “Shomen ni Rei” dan semuanya akan membungkuk untuk menghormat ke arah Kamiza. Kemudian instruktur akan berbalik menghadap para siswa dan akan memberi aba-aba “Rei” dan siswa kemudian akan membungkuk untuk menghormat dan mengatakan “Onegaisimasu”.
Siswa akan mulai latihan dengan melakukan senam (Aiki Taisho). Anda harus memperhatikan baik-baik gerakan dasar ini karena ini merupakan pondasi dari gerakan selanjutnya. Dasar-dasar yang baik akan menopang teknik-teknik lanjutan, karena itu sangat penting untuk dapat menguasainya.

Biasanya pelatihan akan terdiri dari satu atau dua teknik dalam satu waktu. Suatu teknik akan dikuasai bila dilakukan terus menerus. Jangan hanya melakukan gerakan-gerakan, tetapi coba dimengerti apa yang anda lakukan dan mengapa. Anda akan selalu merasakan perbedaan sedikit setiap anda melakukan teknik. Rasakan apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan.

Jika anda terlambat ketika instruktur sedang memberikan petunjuk atau perintah, janganlah anda mengganggunya. Tunggulah di pinggir matras sampai instruktur melihat kepada anda. Dan jangan ikut latihan sampai instruktur membalas hormat pada anda.

Cobalah untuk berganti partner pada setiap kesempatan yang ada. Hal ini akan memberikan anda kemampuan untuk merasakan kondisi lawan yang berbeda-beda. Selalu hormati (Rei) partner anda sebelum mulai berlatih serta ucapkan “Onegaishimasu” dan bila selesai dengan partner anda hormat (Rei) kembali dan ucapkan “Arigato Gozaimashita”.

Ada dua hal yang sangat penting ketika berlatih. Ketika partner anda melakukan tepukan pada waktu anda melakukan teknik kuncian sendi padanya, anda harus berhenti. Tepukan itu menyatakan bahwa kalau teknik tersebut diteruskan maka akan terjadi cedera yang serius. Hal yang lain yang penting adalah perintah “Yamaete”, ini yang artinya berhenti. Ketika anda mendengan kata itu, anda harus berhenti. Cedera akan terjadi ketika “Uke” berhenti dan “Nage” tetap melakukan teknik tersebut.

Jangan malu atau enggan untuk meminta ijin kepada instruktur bila merasa kelelahan atau tidak fit pada saat berlatih. Mintalah injin dengan cara menghormat (Rei) kepada instruktur dan carilah tempat yang nyaman pada susut matras untuk beristirahat dengan posisi Seiza atau bila terasa berat untuk duduk Seiza anda dapat duduk bersila.

Jangan duduk bersandar pada tembok pada saat kelas berlangsung.

Percakapan yang terjadi di dalam dojo ketika proses latihan berlangsung hanya dibatasi pada topik Aikido.

Pada waktu kelas berlangsung anda harus konsentrasi pada teknik-teknik yang di praktekan. Terimalah perintah-perintah dan instruksi-instruksi dengan mengatakan “Arigato Gozaimashita” dan menghormat (Rei) pada instruktur.

Bergeraklah secara cepat dan memberikan reaksi terhadap seluruh perintah.
Selama pelatihan berlangsung, jangan menghampiri, memanggil-manggil instruktur untuk bertanya atau mengangkat tangan untuk menarik perhatian instruktur. Bila anda membutuhkan penerangan, tunggulah sampai instruktur berjalan mendekati atau berada di dekat anda.

Jangan berjalan diantara dua orang yang sedang berhadapan dalam posisi Kamae.

Jangan berteriak, sumpah serapah, atau marah-marah di dalam Dojo.

Hormati partner anda. Belajarlah untuk mengendalikan gerakan-gerakan anda untuk mengurangi cedera.

Pelatihan akan diakhir dengan semuanya duduk berjajar, instruktur akan masuk ke matras dan duduk Seiza menghadap Kamiza. Instruktur akan memberi aba-aba “Shomen Ni Rei” dan semuanya akan membungkuk untuk menghormat. Kemudian instruktur akan berbalik dan menghadap para siswa dan akan memberi aba-aba “Rei” dan siswa kemudian akan membungkuk untuk menghormat dan mengatakan “Domou Arigato Gozaimashita”.

Di Aikido BAJ terdapat kebiasaan untuk duduk melingkar di atas matras. Gunakan kesempatan ini untuk relaksasi dalam keadaan duduk Seiza ataupun bersila (Anza). NIkmati suasana kebersamaan ini setelah anda berlatih. Dengarkan dengan baik semua penjelasan ulang dari Instruktur dengan seksama. hal ini sengaja dibuat agar setelah latihan yang berat, kita semua dapat relaks kembali.

Setelah latihan, semua murid harus membereskan matras. Dan harus selalu ingat, bahwa jika latihan berakhir bukan berarti anda sekedar berganti pakaian, kemudian pulang ke rumah. Anda selalu dapat meminta tolong untuk hal-hal yang kurang dimengerti.

Hal-Hal Umum

Uang iuran harus dibayar pada waktunya karena ini yang membuat kegiatan Dojo bisa berjalan dengan lancar.

Pemanasan harus selalu dilakukan sebelum memulai pelatihan. Pemanasan sangat penting untuk mencegah cedera otot.

Semua luka terbuka harus ditutup selama pelatihan, “anda harus menutup luka itu sendiri” dan bersihkan darah (jika ada) dari seragam (gi) anda dan matras dengan segera.

Kuku kaki dan tangan harus pendek dan bersih serta lepaskan segala macam perhiasan atau asesoris lainnya ketika berlatih dan pastikan seragam (Gi) anda selalu terjaga kebersihannya.

Jangan frustasi atau marah pada diri sendiri atau partner anda jika suatu teknik tidak berhasil dilakukan. Kalau teknik-teknik tersebut mudah, anda tidak perlu berlatih untuk mempelajarinya. Terlebih-lebih ketika anda baru mulai, pada waktu semuanya baru dan anda mencoba untuk bergerak dan mengkoordinasikna tubuh anda dalam aikido, banyak hal akan menjadi aneh. Tetapi ingat bahwa jika anda keluar dari dojo dan mengetahui suatu hal yang tidak anda ketahui sebelumnya maka berarti ada kemajuan.

Jika anda hanya memperoleh satu hal dari setiap sesi pelatihan, apakah itu hanya gerakan tangan dalam tingkat dasar atau teknik baru, maka setelah 20 kali berlatih anda akan mendapatkan 20 hal yang baru.

Lebih sering anda berlatih, lebih baik untuk anda. Jika anda memerlukan inspirasi, lihatlah para siswa senior yang berlatih bersama-sama dengan anda. Mereka juga mengalami tiga bulan yang pertama, tetapi dua tahun atau dua puluh lima tahun sebelum dan itulah yang akan anda peroleh kalau anda berlatih keras.

Pada waktu berlatih, anda harus serius berlatih dan latihan tambahan dapat dilakukan sebelum atau sesudah pelatihan.

Anda bisa menghampiri para senior sebelum dan sesudah berlatih karena mereka akan dengan senang hati membantu anda bila ada masalah atau pertanyaan. Memang ini adalah hak anda untuk bertanya dan mereka selalu ada untuk membantu.

Manusia dan Seni Beladiri.

Manusia merupakan fenomena eksistensi. Eksistensi manusia adalah sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan bagian dari alam semesta. Tuhan telah menciptakan ketiganya untuk hidup saling melengkapi dalam keharmonisan. Sebagai individu, manusia mempunyai potensi fisik dan mental. Keduanya haruslah selaras bila seorang ingin mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Namun itu bukanlah satu-satunya cara. Manusia juga hidup berdampingan dengan sesamanya. Oleh karena itu ia juga harus mencari keselarasan (harmoni) dengan manusia lain. Bila keselarasan ini tercapai, terwujudlah cinta dan kasih sayang antara sesama manusia.

Cinta dan kasih sayang bermanifestasi pada rasa saling mengerti, peduli, berbagi dan bekerja sama. Manusia juga haruslah mencari keselarasan dengan alam. Sebagai makhluk hidup, manusia tidak bisa lepas dari alam. Manusia dan alam adalah bagaikan dua sisi mata uang; dualitas yang saling mempengaruhi. Bila manusia “menyakiti” alam, manusia akan mendapatkan bencana sebagai “respon” yang diberikan alam kepadanya.

Seni Beladiri dibuat pada awal mulanya dengan maksud murni sebagai alat untuk mempertahankan diri (survive) dari keganasan lingkungan sekitarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, seni beladiripun memiliki makna lebih dari sekedar seni bertahan hidup; ianyapuin dapat berubah untuk menjadi seni pembunuh dan penghancur. Hal ini telah berlangsung sekian lama dan masih dapat dijumpai bahkan pada masa modern sekarang.

Namun Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki pemikiran dan perasaan yang membuatnya lebih mulia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Manusiapun mampu menjadikan seni beladiri sebagai salah satu jalan untuk mencapai harmoni; keselarasan antara manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan alam semesta. Melalui proses ratusan tahun, para guru seni beladiridi masa lalu telah memahami konsep ini pada fenomena yang tergambarkan dalam teknik dan falsafah beladiri.

Manusiapun telah mampu membuat konsep yang lebih ideal dari seni beladiri; Seni Beladiri bukanlah jalan untuk perkelahian, melainkan jalan mempertahankan diri dan jalan persaudaraan dengan umat manusia karena perkelahian bukanlah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik dengan orang lain. Perkelahian merupakan pilihan yang harus diletakkan pada posisi paling akhir yang terpaksa akan diambil bila tidak ada jalan lain. Dengan menyadari hal ini, maka Seni Beladiri akan mampu menjadi jalan yang tepat bagi manusia untuk memaksimalkan potensi diri untuk kemudian bersatu dengan sesamanya dan alam semesta.

Berdasarkan hal inilah maka Aikido tercipta.

AIKIDO: Menundukkan Lawan dengan Cinta Kasih

Aikido merupakan seni beladiri modern yang dikembangkan oleh Morihei Ueshiba (1883-1969) berdasarkan beberapa seni beladiri kuno Jepang yang telah ia kuasai sebelumnya.

Prinsip teknik seni beladiri ini adalah tidak mengadu tenaga, namun cukup dengan menyalurkan tenaga serangan itu dengan menggunakan dasar gerakan pola sirkuler atau melingkar (konvergensi) yang membentuk pertemuan satu titik—untuk kemudian mengalirkannya, sehingga serangan yang datang dapat dinetralisasir.

Sebagai sebuah seni mempertahankan diri, Aikido merupakan sekumpulan teknik praktis; reaksi cepat, serta dapat digunakan dalam ruang sempit sekalipun. Seorang praktisi Aikido dilatih untuk mampu menghadapi lawan lebih dari seorang. Lebih lanjut lagi, Aikido tidak hanya ditujukan bagi mereka yang secara fisik lebih besar atau kuat, justru Aikido sangat bermanfaat bagi mereka yang bertubuh relatif lebih kecil atau lemah. Latihan yang rutin akan membantu memperkuat rasa percaya diri dan juga bermanfaat bagi kebugaran tubuh, sehingga Aikido cocok bagi pria maupun wanita; remaja ataupun dewasa.

Aikido merupakan seni beladiri yang filosofis. Filosofi Aikido adalah keseimbangan/harmoni antara tenaga dengan semangat (spirit). Arti kata Aikido itu sendiri; Ai merupakan penyelarasan, harmoni atau integrasi. Ki adalah energi kehidupan. Do berarti jalan. Jadi Aikido dapar kita simpulkan sebagai sebuah “Jalan untuk membentuk keselarasan antara mental/pikiran (mind), sikap/tubuh (body) dan jiwa (soul).”

Dalam berlatih Aikido, ketekunan berlatih yang luar biasa amatlah ditekankan serta tidak ditumbuhkan motivasi untuk mengalahkan lawan. Ego untuk memunculkan rasa “ke-Akuan” tidak diharapkan muncul dalam diri seorang Aikidoka. Itulah mengapa dalam Aikido tidak diadakan pertandingan selain Embukai (demonstrasi/peragaan teknik) saja.

Walaupun terdapat berbagai teknik yang mampu diterapkan sebagai serangan, Aikido tidak mengajarkan para praktisinya untuk memulai sebuah perkelahian. Inilah seni pertarungan yang murni defensif, sehingga dalam Aikido tidak dikenal adanya serangan ofensif. Dalam upaya pembelaan diri tersebut seorang Aikidoka akan menerapkan salah satu falsafah Aikido, “Aikidoka dan lawan sama-sama selamat,” sehingga tujuan utama Aikido bukan untuk membentuk para prektisinya menjadi orang yang senang berkelahi, melainkan membentuk jiwa manusia untuk memahami dan bersatu dengan dirinya sendiri dan orang lain/alam semesta dalam harmoni dan cinta kasih.

Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu”

Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) merupakan sebuah perguruan seni beladiri yang menjadikan filosofi Aikido sebagai bagian terpenting dalam penempaan mental/pikiran (mind) dan sikap/tubuh (body) para anggotanya dalam upaya untuk mencapai karakter dan kepribadian (soul) seorang ”Budoka” (Warrior).

Pendirian organisasi ini pada awalnya dirintis oleh beberapa orang yang tengah mendalami seni beladiri Aikido. Diantara mereka terdapat orang-orang yang pernah bahkan masih aktif mendalami seni beladiri lainnya, sehingga kemudian dari mereka tercetus sebuah ide untuk membentuk suatu wadah latihan yang terorganisir. Untuk itu, pada tanggal 22 Agustus 2003 wadah itu terwujud dengan nama Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” yang kemudian lebih dikenal dengan nama AIKIDO BAJ. Pelopor wadah ini diantaranya adalah Kushadiyanto S.Psi, Ganjar Subekti, Pepen Junaedi, Bambang Yudha dan Henry.

Dari waktu ke waktu anggota dan peminat Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri Aikido “Bandung Aiki Jutsu” kian lama kian bertambah, maka muncul beberapa pemikiran tentang perlunya suatu wadah dalam bentuk organisasi yang lebih profesional untuk menampung aspirasi anggotanya. Atas dasar ini, maka pada tanggal 11 Januari 2004 diadakan Musyawarah Nasional yang pertama yang menghasilkan beberapa keputusan penting; yakni tersusunnya perubahan nama dari Perkumpulan Penggemar Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” menjadi Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu”. Tersusun pula AD/ART serta tertpilih beberapa nama untuk menduduki jabatan-jabatan dalam kepengurusan organisasi. Langkah berikutnya dari Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” adalah mencatatkan diri ke Notaris untuk aspek legal dan kekuatan hukum sebagai salah satu perguruan seni beladiri yang berada di wilayah Indonesia.

Pada dasarnya Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” merupakan sebuah organisasi mandiri/independen; tidak terikat dengan organisasi lain manapun, baik secara teknik maupun keorganisasian, sehingga dengan materi yang beragam dan kontinuitas latihan yang baik, para anggota Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lain pada umumnya sesuai dengan kebutuhan yang harmonis serta berkarya secara kreatif dan inovatif.

Kurikulum di AIKIDO BAJ sendiri merupakan perpaduan dan kombinasi seni beladiri Aikido dengan berbagai unsur dari seni beladiri lain. Hal ini merupakan komitmen para pendiri organsisasi sejak awal pendirian AIKIDO BAJ; untuk menjadikan wadah ini sebagai sarana untuk berlatih seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lainnya secara umum, sehingga dapat dikatakan bila materi pembelajaran yang ada adalah 80% Aikido dan 20 % pengayaan (enrichment). Semua materi itu diramu dan digubah sedemikian rupa dalam konsep beladiri yang efektif dan efisien serta tetap berpijak pada prinsip dasar dan filosofi Aikido. Landasan filosofis inilah yang menjadikan kata “AIKIDO” tertera secara resmi pada nama organisasi.

Perjalanan organsisasi yang terus bergulir merupakan langkah-langkah kecil yang sedang dan harus ditempuh menuju perjalanan panjang untuk menjadikan Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” mampu eksis di tengah-tengah masyarakat untuk mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lain pada umumnya. Pengembangan wadah ini dilandasi oleh salah satu pemikiran Aikido sendiri yaitu harmonisasi antara alam semesta dan manusia. Alam merupakan sumber kehidupan sementara manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai ilmu pengetahuan sehingga mampu berkarya dengan kreatifitas yang hampir tanpa batas, sehingga dalam kegiatannya di Organisasi Seni Beladiri AIKIDO “Bandung Aiki Jutsu” (AIKIDO BAJ) menjadi sebuah wadah bagi para anggotanya untuk berlatih dan mengembangkan seni beladiri Aikido secara khusus dan seni beladiri lainnya secara umum.

Berguru Pada Pohon Bambu

Terus membangun fondasi agar tetap kokoh

Terus membangung ruas demi ruas dengan ulet hingga menjulang

sangat tinggi…

mengikuti kemanapun terpaan angin, tanpa melawan, namun tetap

kembali ke tempat semula…

Pohon bambu mengajarkan pada kita tentang kesabaran untuk

membangun, perlu waktu untuk kekokohan

Berprinsip namun lembut…

menanti giliran ujain

menanti giliran ujain

ohohohoho slese sudah ujian buat jadi coklat. dan kali ini bakalan ada poto^^ (tapi nunggu gw minta filenya dulu yah^^)

jadi ceritanya begene neh. ujian dimulai dari jem 9 pagi ampe jem setengah 12 klo gak salah. edan 3 jem setengah dipake buat ujian duank. peserta ujiannya adalah eri, tedy, adit, nick (semua kyu 4) trus sudirman, deni, teh uti, pak ishkar (smuanya kyu 3) ama tito (kyu 2). sedikit yah^^ tapi tenang ajah yg penting quality over quantity^^ pengujinya kali ini adalah cm sensei kus lgeh. gmn seh yudansha yg laen? liburan mulu!

materi yg diujikan seperti biasa yaitu :

buat ke kyu 3:

  • rangkaian teknik 1
  • rangkaian teknik 2
  • randori against one attacker (randori lawan 2 an gak ada taun ini T^T)

buat ke kyu 2:

  • rangkaian teknik 1
  • rangkaian teknik 2
  • trus yg itu teh lanjutanya rangkaian teknik 2 yah?
  • randori against one attacker
  • randori against two attacker

buat ke kyu 1

  • pokoknya semua yg diatas ditambah suwari waza
  • trus randori against three attacker

apa ajah seh rangkaian teknik 1 dan 2 itu isinya? pertanyaan anda akan segera saya jawab begitu saya mendapatkan jawabannya^^

ujian ud slese tinggal kita tunggu ajah hasilnya. dana ingat apa kata sensei “ujian bukan akhir segalanya tapi awal untuk terus memperbaiki diri”(inged skrg mah^^)

n dats all folks!

btw ini blog teh ada yg baca gak seh? meuni gak ada yg kasih comment. lama2 hoream ah bikin kayak ginian

yak! ujian dah slese dilaksanakan kemaren tanggal 29 desember 2008. rencanaya seh tanggal 28 taoi tnyt ada yg make gedungnya buat hajatan jadi ya ud d.

ujian kali ini diikuti oleh entah brp orang dan entah brp yg lulus :)) . harap maklum gw terlambat dateng. lagean ujiannya mulai jem 8, gw kan baru bagun jem 4 pas adzan subuh trus tidur lage baru solat subuhnya jem setengah 6 =)) dah gt ya tidur lageh =)) baru bangun jem 9. dah gt mau mandi jg males, kepgn makan dulu. mau makan tnyt gak ada apa2 jadi nyuruh si mbak goreng tahu dulu (tahu adalah makanan siap saji dari indonesia :) ). dah gorengnya lama jadi ya ud gw nunggu sambil maen ps (sebenernya kelamaan maen psnya dari pada nunggu :)) ). makan slese, mandi slese kira2 jem 10 lebihan dan akhirnya kita berangkat menuju lokasi di gedung distarcip jalan cianjur entah nomor brp yg pasti belakang IBCC. begt nyampe tnyt UJIAN DAH BERJALAN!!!! (ya iyalah mulainya bajah jem 8). dah gt nyari2 kamera tnyt gak ada satu orang pun yg bawa kamera buat dipinjem!!! gmn seh kalian ini? jadinya kan ini blognya tulisan duank gak ada gambar jadi kayak novel X-(

btw kok jadinya banyak nyeritain tentang gw yah? biarlah soalnya tentang ujiannya pun gak ada yg bisa dilaporin :))

oh yah slese ujian dilanjut siangnya jem 1 pemantapan buat ujian yg ke kyu 3 keatas ampe jem 3 an. trus malemnya latian lagi d. tapi yg dateng kok cm dikid? padahal klo dibandingin ama latian biasa lebih capek latian daripada ujian.

pokoknya semua yg ikud ujian dan lulus pertanggung jawabkan sabuk baru yg akan kalian pake. semakin tinggi tingkatan semakin tinggi juga tanggung jawabnya. yg dapet nilai jelek masih banyak kesempatan untuk terus memperbaiki diri. yg dapet nilai bagus jgn ngerasa senang trus2an krn gw lebih bagus lagi :)) . inged kata sensei “ujian bukan akhir segala2nya tapi awal….(lanjutanya apa yah?pokoknya gtlah)”

kepada semua peserta ujian selamat menempuh sabuk baru :D

Older Posts »